Aku duduk di trotoar, di sela-sela warung rokok dan tukang jual pulsa, orang-orang memandangiku, entah kenapa -memangnya salah duduk menepi di trotoar?- aku sama sekali mengacuhkan pandangan mereka. Kupejamkan mataku, mencoba untuk rileks diantara asap kendaraan, sengatan matahari, lalu lalang manusia, dan klakson kendaraan yang menggila. Kembali kulihat tas kembang-kembang dipundak seorang wanita tua, lagi-lagi mataku menyipit tak suka. Aduh, kepalaku sakit lagi. Oke, kali ini aku harus mengontrol emosiku saat melihat tas kembang-kembang itu. Bukannya aku iri tak bisa membeli tas yang menjadi tren saat ini, toh aku tak punya barang banyak yang harus kubawa jalan-jalan. Heh, jalan-jalan? ini lebih tepat disebut gelandangan, tak ada arah, uang, barang berhargaku hanya pakaian yang membungkus tubuhku ini.
Tak terasa malam datang, penjual sudah membereskan dagangan mereka, mobil juga sudah jarang, berarti sekitar pukul 11 ya? entahlah, peduli amat aku pada waktu. Pedagang yang meninggalkan toko kecilnya tersenyum padaku, akupun membalasnya, lalu mereka berlalu. Sejak siang aku belum beranjak dari tempatku berteduh. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada suatu benda, di dalam toko rokok ada celah kecil yang bisa dilihat dari tempatku bersandar, ya, lagi-lagi tas kuning dengan kembang-kembang kecil warna-warni. Oh Tuhan, kenapa hari ini benda laknat ini mesti hadir di setiap aku melangkah? ingin berpindah tempat pun aku tak bisa, kedua kakiku lemas tak berdaya, tanganku bahkan tidak punya tenaga untuk menggeser tubuhku barang sesenti.
Apa aku akan mati?
Siapa yang akan menemukanku pertama kali?
Dimana aku dikubur?
Atau aku hanya akan dibuang di sungai kumuh yang airnya hitam pekat?
Otak ini tak sanggup berpikir, hanya pertanyaan bodoh yang berputar di kepalaku. Semua gara-gara tas itu! Aku bukannya gila lalu menyalahkan benda mati. Tapi gara-gara tren tas bajingan, hidup ini rusak, hancur, berantakan!
Kalau saja adikku yang manis tidak menginginkannya, tas yang dipakai hampir semua teman sekolahnya, aku tak perlu mencuri sedikit uang dari warung mbok iyem, aku tak perlu dipukuli warga, dan kabur hingga luntang-luntung di tengah kota. Bahkan luka memar di sekujur tubuhku belum sembuh benar.
Brengsek!
Memaki tapi tubuh ini tak dapat bergeming. Lemah sekali aku sekarang, padahal dulu, dulu sekali, aku pernah dengan sombongnya memamerkan betapa kuatnya aku pada tetangga kampung, aku pernah takabur bahwa aku tak akan mati walau dikeroyok orang-orang sebanyak apapun, ternyata ak termakan omongan sendiri...
Kalau nanti aku mati, impianku hanya bisa dikubur dengan layak, tanpa nama pun bukan masalah, aku tak ingin adikku tahu aku mati dengan keadaan yang menyedihkan ini, kalah dalam segala aspek, demi tas kembang-kembang impiannya.
Di tengah kemelut pikiran bodoh itu, mataku mulai berat, terpejam pelan-pelan, tanganku tergeletak lesu, hitam pekat mengelilingi, hanya hitam pekat, yang tak kutahu ujungnya, yang tak kutahu akhirnya....
sepertinya kamu punya bakat nulis. :)
BalasHapusapanya pemm.. aneh gini . haha
BalasHapusbut,thx atas pujianny :))