Aku tak pernah menyesal melakukan ini. Seperti prinsipku dari awal, mata dibalas mata, gigi dibalas gigi.
Menjadi "pembalas dendam" tentu belum pernah kupikirkan sebelumnya, hanya saja saat itu mata ini gelap, jantungku berdetak cepat, benar-benar cepat, tanpa sadar tangan ini menebas, menyemburkan semua darahnya, emosiku sudah mencapai ubun-ubun.. aku tak tahan ketika melihatnya tertawa keras, begitu lepas, tanpa terlintas apa yang dia lakukan 3 tahun lalu...
Tanpa sadar bibirku tersenyum simpul melihatnya kesakitan lalu tergeletak tak berdaya, teman-temannya berteriak ketakutan lalu lari, tentu saja aku tak perlu mengejar mereka karena yang kuincar hanya nyawanya...
Dalam kegelapan aku tak takut, ada suara jangkrik yang menemani, suara klakson yang tak pernah berhenti, angin malam menambah teman.
Menyesal? jangankan menyesal, camkan ini! jika aku tahu aku akan berakhir begini - sendiri dan terus lari- seharusnya aku menyiksa orang itu dulu ! bukan langsung membunuhnya ! harusnya kupotong dulu tangannya, jari-jarinya, hingga dia bisa melihat betapa banyak darah yang dulu ia sia-siakan, harusnya kujambak rambutnya hingga tanggal dari kulit kepala, kukuliti dan terakhir kumutilasi! jika aku tahu akan begini akhirnya...
Dulu aku bisa bersembunyi, di tempat keluarga dekatku, mereka mendukungku, mereka mengerti kenapa aku membunuhnya.
Ya, dia pantas untuk mati ! pengadilan memang brengsek ! Jaksa penuntut bajingan! pembunuh, perampok nyawa seperti dia bebas? seharusnya ia mati di kandang kuda!
Keluarga.. aku jadi ingat, malam-malam begini adikku biasanya takut tidur sendiri, diam-diam dengan bantal imutnya menyusup ke kasurku, tapi aku segera tahu karena dia sebenarnya berlari -lari kecil. Ayah ibuku yang tahu kebiasaan buruknya menghampiri kami berdua, mengecup keningnya, dan mengajarinya berdoa pada Tuhan agar dijauhkan dari gangguan.
Oh Tuhan, andai masa-masa itu kembali ada. Andai mereka tiba-tiba membangunkanku dari mimpi burukku. Andai mereka masih hidup...
Aku tak bisa bergantung pada paman dan bibi ku terus, mereka sama sekali tak terlibat, aku harus mandiri, bisa bersembunyi dan mencari makan dengan kedua tanganku.
Untuk tujuan itu, teman, jika kalian mungkin punya, bukan, pasti punya orang-orang yang kalian benci dari lubuk hati paling dalam, ingin kalian cabik-cabik jantungnya, jangan ragu, hubungi aku, di email ini ada attachment yang berisi nomor hp baru ku. Jika salah satu dari kalian berani macam-macam dengan polisi lalu membocorkannya, aku tak segan memburu, menyiksa atau membunuh salah satu dari kalian. Ingat, hubungi aku jika hanya butuh "pembalas dendam", mungkin teman kalian ada yang benar-benar butuh, silakan, tapi jangan sampai ke tangan polisi, karena aku selalu tahu siapa yang berkhianat atau tidak, selain kepentingan tadi, jangan mencoba untuk menanyakan kabar atau 'say hi', itu tak akan menghiburku.
Tentu saja aku meminta bayaran yang pantas untuk setiap perbuatan yang aku lakukan. Karena kini aku harus bertahan hidup sendiri, entah bagaimanapun caranya.
salam,
N.b. : bo'ongan lah..jangan telp aku beneran ! hehe
??????????????
BalasHapusbagus niiil